Tim Sulit Berkembang? Jangan Biarkan Leadership Stagnan: Ini Cara Melatih Kemampuan Kepemimpinan

Menjadi pemimpin sering kali dimulai jauh sebelum seseorang merasa benar-benar siap memimpin.

Seorang karyawan yang sebelumnya dikenal sangat kompeten, misalnya, dapat dipromosikan menjadi supervisor karena performanya bagus. Namun, beberapa bulan kemudian tantangannya berubah. Ia tidak lagi hanya dituntut menyelesaikan pekerjaannya sendiri, tetapi juga harus memberikan arahan, menangani konflik, mengambil keputusan, memberikan feedback, hingga memastikan anggota tim berkembang.

Di titik inilah banyak orang menyadari bahwa menjadi ahli dalam pekerjaan tidak otomatis membuat seseorang ahli dalam memimpin orang lain.

Kemampuan kepemimpinan membutuhkan proses belajar tersendiri. Bukan sekadar belajar berbicara lebih tegas atau berani mengambil keputusan, melainkan memahami diri sendiri, mengenali karakter orang lain, membangun kepercayaan, mengelola emosi, dan menciptakan lingkungan kerja yang membuat orang mampu memberikan performa terbaiknya.

Kebutuhan tersebut semakin relevan jika melihat kondisi dunia kerja saat ini. Gallup dalam State of the Global Workplace 2026 mencatat bahwa hanya 20% karyawan secara global yang tergolong engaged pada 2025. Bahkan, engagement kelompok manajer turun dari 31% pada 2022 menjadi 22% pada 2025. 

Artinya, pengembangan leadership tidak hanya penting bagi bawahan. Pemimpin sendiri membutuhkan sistem pengembangan yang membuat mereka mampu menghadapi kompleksitas pekerjaan dan manusia secara lebih sehat.

Mengapa Kemampuan Kepemimpinan Perlu Dilatih, Bukan Hanya Mengandalkan Pengalaman?

Ada anggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin yang baik setelah cukup lama berada di posisi manajerial.

Pengalaman memang penting. Namun, pengalaman tanpa refleksi dapat membuat seseorang mengulangi pola kepemimpinan yang sama bertahun-tahun.

Sebagai contoh, seorang manager mungkin merasa sudah memberikan arahan dengan jelas. Akan tetapi, anggota tim justru merasa informasi sering berubah. Leader lain mungkin menganggap dirinya cukup terbuka terhadap masukan, padahal tim memilih diam karena takut pendapat mereka dianggap sebagai perlawanan.

Karena itu, kemampuan leadership perlu diperlakukan seperti kompetensi profesional lainnya: dilatih, diuji, mendapatkan feedback, kemudian diperbaiki kembali.

Besarnya pengaruh manager terhadap pengalaman kerja juga terlihat dalam riset Gallup. Data mereka menunjukkan bahwa manager dapat menjelaskan sekitar 70% variasi engagement pada level tim. Angka tersebut tentu tidak berarti seluruh masalah organisasi disebabkan oleh manager, tetapi menunjukkan bahwa kualitas interaksi antara leader dan anggota tim mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman kerja sehari-hari.

Dengan demikian, pengembangan leadership seharusnya tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah bermasalah. Justru, organisasi perlu membangun kemampuan tersebut sebelum masalah membesar.

Cara Melatih Kemampuan Kepemimpinan agar Tidak Berhenti di Teori

Leadership tidak berkembang hanya karena membaca buku atau mengikuti seminar. Pengetahuan memang membantu, tetapi perubahan sesungguhnya terlihat ketika seseorang mulai mengubah perilakunya saat memimpin.

Berikut beberapa pendekatan yang dapat digunakan.

1. Mulai dari Self-Awareness: Kenali Cara Anda Memimpin

Sulit memperbaiki sesuatu yang tidak kita sadari.

Oleh karena itu, pengembangan kepemimpinan sebaiknya dimulai dengan mengenali pola diri sendiri. Bagaimana Anda bereaksi ketika target tidak tercapai? Apakah cenderung mengambil alih pekerjaan tim? Menghindari konflik? Terlalu cepat memberikan solusi? Atau justru sulit memberikan apresiasi?

Self-awareness dapat dikembangkan melalui refleksi, assessment, coaching, maupun feedback dari orang-orang yang bekerja langsung bersama kita.

Anda dapat mulai dengan tiga pertanyaan sederhana setiap akhir minggu:

  • Keputusan apa yang minggu ini berdampak positif pada tim?
  • Dalam situasi apa saya bereaksi terlalu cepat atau emosional?
  • Apa yang seharusnya saya lakukan secara berbeda jika situasi serupa terjadi lagi?

Pertanyaan seperti ini membuat pengalaman kerja tidak hanya berlalu sebagai rutinitas, tetapi berubah menjadi bahan pembelajaran.

2. Belajar Memberikan Arah yang Jelas, Bukan Sekadar Instruksi

Pemimpin tidak harus menjelaskan setiap langkah pekerjaan kepada anggota tim. Namun, ia perlu memastikan tim memahami apa yang ingin dicapai, mengapa hal tersebut penting, dan bagaimana keberhasilan akan diukur.

Cobalah membedakan dua bentuk komunikasi berikut.

“Pokoknya proposal ini harus selesai sore.”

dibandingkan dengan:

“Kita butuh draft proposal sebelum pukul 16.00 agar tim sales masih memiliki waktu dua jam untuk review sebelum dikirim ke klien. Prioritas hari ini ada pada struktur solusi dan pricing.”

Keduanya meminta pekerjaan yang sama. Akan tetapi, komunikasi kedua memberi konteks dan prioritas.

Seiring waktu, kebiasaan memberikan konteks membuat anggota tim tidak hanya menjadi pelaksana instruksi. Mereka mulai memahami logika di balik keputusan sehingga dapat mengambil keputusan dengan lebih mandiri.

3. Latih Feedback Menjadi Percakapan Dua Arah

Salah satu kesalahan dalam leadership adalah menganggap feedback hanya diberikan ketika seseorang melakukan kesalahan.

Padahal, feedback yang efektif juga membantu orang mengetahui perilaku mana yang perlu dipertahankan.

Gallup menemukan bahwa 80% karyawan yang mengatakan menerima meaningful feedback dalam satu minggu terakhir tergolong fully engaged. Mereka juga menekankan pentingnya feedback yang cepat, relevan, fokus pada perilaku, dan berorientasi pada perbaikan ke depan.

Alih-alih mengatakan:

“Presentasimu kurang bagus.”

leader dapat mengatakan:

“Di bagian kedua tadi, beberapa informasi utama belum terlihat jelas sehingga klien beberapa kali meminta penjelasan ulang. Menurutmu bagian mana yang paling perlu kita sederhanakan sebelum presentasi berikutnya?”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar. Feedback kedua tidak menyerang identitas seseorang. Fokusnya ada pada perilaku, dampaknya, dan langkah perbaikan.

4. Berhenti Menjadi Sumber Semua Jawaban

Ketika anggota tim datang membawa masalah, insting seorang leader sering kali langsung memberikan solusi.

Masalahnya, jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, tim dapat menjadi terlalu bergantung kepada atasannya.

Cobalah mengganti jawaban langsung dengan beberapa pertanyaan:

“Menurutmu apa penyebab utamanya?”

“Apa saja opsi yang sudah kamu pertimbangkan?”

“Risiko terbesar dari opsi pertama apa?”

“Kalau kamu yang mengambil keputusan, mana yang akan kamu pilih?”

Pendekatan seperti ini membawa leader menuju coaching mindset. Tugas pemimpin bukan hanya menyelesaikan masalah hari ini, tetapi meningkatkan kemampuan orang lain menyelesaikan masalah berikutnya.

Dengan begitu, semakin matang anggota tim, semakin sedikit pula keputusan kecil yang harus berhenti di meja leader.

5. Gunakan Delegasi sebagai Alat Pengembangan

Delegasi sering dipahami hanya sebagai cara mengurangi beban kerja. Padahal, delegasi juga merupakan salah satu alat pengembangan leadership dan talent.

Misalnya, seorang staf yang biasanya hanya membuat laporan dapat mulai diberi kesempatan mempresentasikan laporan tersebut kepada stakeholder. Anggota tim yang kuat dalam eksekusi dapat diberi tanggung jawab memimpin proyek kecil.

Center for Creative Leadership menggunakan framework klasik 70-20-10 untuk menggambarkan bagaimana leader berkembang: sekitar 70% pembelajaran berasal dari challenging experiences dan assignments, 20% dari developmental relationships seperti mentor atau coach, dan 10% dari coursework atau training formal. CCL menekankan bahwa angka tersebut merupakan guideline, bukan formula matematis yang harus diterapkan secara kaku.

Pesan terpentingnya jelas: leadership harus dipraktikkan dalam situasi nyata.

Training memberikan kerangka. Coaching membantu melakukan refleksi. Namun, pengalamanlah yang menguji apakah kemampuan tersebut benar-benar dapat diterapkan.

6. Buat Decision Journal untuk Melatih Pengambilan Keputusan

Pemimpin sering dinilai dari hasil keputusannya. Sayangnya, keputusan yang menghasilkan outcome bagus belum tentu dibuat melalui proses berpikir yang bagus.

Karena itu, biasakan mencatat keputusan penting:

Situasi: Apa masalah yang sedang terjadi?
Data: Informasi apa yang tersedia?
Asumsi: Apa yang masih berupa dugaan?
Pilihan: Alternatif apa saja yang tersedia?
Keputusan: Mengapa pilihan ini diambil?
Risiko: Apa yang mungkin salah?
Review: Apa yang akhirnya terjadi?

Setelah beberapa bulan, pola keputusan akan mulai terlihat.

Mungkin Anda terlalu optimistis terhadap deadline. Mungkin keputusan sering terlalu lama karena menunggu informasi sempurna. Atau justru Anda terlalu cepat memutuskan tanpa melibatkan pihak yang terdampak.

Insight seperti inilah yang membantu leadership bertumbuh secara nyata.

7. Belajar Mengelola Konflik Tanpa Menghindarinya

Tim yang sehat bukanlah tim yang tidak pernah berbeda pendapat.

Justru, organisasi berisi orang dengan latar belakang, kepentingan, gaya komunikasi, target, dan tekanan yang berbeda. Konflik akan tetap muncul.

Leadership diuji pada cara seorang pemimpin mengelola perbedaan tersebut.

Saat konflik terjadi, pisahkan tiga hal:

  1. Fakta: Apa yang benar-benar terjadi?
  2. Interpretasi: Bagaimana masing-masing pihak melihat situasi?
  3. Emosi: Apa yang dirasakan oleh pihak yang terlibat?

Pemisahan ini membantu percakapan tetap produktif.

Leader tidak harus selalu memilih salah satu pihak. Dalam banyak situasi, tugasnya adalah mengembalikan percakapan kepada tujuan bersama serta membantu orang menemukan solusi yang dapat dijalankan.

8. Bangun Kebiasaan Mendengarkan sebelum Memberi Respons

Menjadi pemimpin membuat seseorang sering diminta memberikan jawaban.

Namun, kemampuan leadership justru kadang terlihat dari kemampuan untuk tidak langsung menjawab.

Ketika seseorang mengeluhkan pekerjaannya, misalnya, jangan langsung menyimpulkan bahwa ia tidak termotivasi. Bisa jadi masalahnya adalah beban kerja, ketidakjelasan prioritas, konflik dengan rekan kerja, atau kurangnya sumber daya.

Cobalah bertanya:

“Apa bagian yang paling menghambat kamu sekarang?”

“Apa yang sudah kamu coba?”

“Dukungan seperti apa yang paling membantu?”

Percakapan semacam ini mengubah hubungan leader dan anggota tim dari sekadar command-and-control menjadi hubungan kerja yang lebih kolaboratif.

Leadership Training Efektif, tetapi Desainnya Menentukan Hasil

Apakah kemampuan leadership benar-benar dapat ditingkatkan melalui training? Bukti riset menunjukkan jawabannya: bisa, tetapi kualitas desain program sangat menentukan.

Meta-analysis oleh Lacerenza dan kolega yang dipublikasikan di Journal of Applied Psychology menganalisis 335 independent samples. Hasilnya menunjukkan leadership training memberikan peningkatan pada learning, transfer kemampuan ke pekerjaan, hingga outcomes. Program yang lebih efektif cenderung menggunakan needs analysis, feedback, berbagai metode pembelajaran, terutama praktik serta sesi training yang tidak hanya dilakukan sekaligus dalam satu waktu.

Temuan tersebut memberikan pelajaran penting bagi HR maupun business owner.

Jangan menilai keberhasilan leadership development hanya dari:

“Pesertanya puas tidak?”

atau:

“Training-nya seru tidak?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa perilaku leader yang berubah tiga bulan setelah training?

Misalnya:

  • Apakah one-on-one meeting menjadi lebih konsisten?
  • Apakah feedback diberikan lebih cepat?
  • Apakah jumlah pekerjaan yang harus diambil alih manager berkurang?
  • Apakah anggota tim lebih mampu mengambil keputusan?
  • Apakah konflik dapat diselesaikan lebih cepat?
  • Apakah target tim menjadi lebih jelas?

Dengan cara tersebut, leadership development berubah dari kegiatan pelatihan menjadi proses perubahan perilaku.

Coba Program Latihan Leadership 30 Hari

Bagi Anda yang ingin mulai tanpa menunggu program formal perusahaan, latihan berikut dapat digunakan sebagai eksperimen selama satu bulan.

1. Kenali Diri

Catat situasi yang paling sering memicu stres atau frustrasi ketika memimpin. Mintalah dua atau tiga orang memberikan satu feedback tentang kekuatan dan satu area yang perlu diperbaiki.

2. Perbaiki Komunikasi

Sebelum memberikan tugas, biasakan menjelaskan tiga hal: hasil yang diharapkan, alasan tugas tersebut penting, dan deadline.

Setelah itu, minta anggota tim mengulang pemahamannya dengan kata-katanya sendiri.

3. Kurangi Memberikan Jawaban

Setiap anggota tim membawa masalah, jangan langsung menjawab.

Tanyakan minimal dua pertanyaan sebelum memberikan solusi.

Tujuannya bukan mempersulit tim, melainkan melatih kemampuan mereka berpikir dan mengambil keputusan.

4. Evaluasi Dampak

Tinjau kembali perubahan selama tiga minggu sebelumnya.

Tanyakan kepada tim:

“Apa satu hal dari cara saya memimpin yang belakangan ini membantu pekerjaan kalian?”

dan:

“Apa satu hal yang masih perlu saya perbaiki?”

Pertanyaan terakhir mungkin tidak selalu nyaman. Namun, justru kemampuan menerima jawaban dengan tenang merupakan bagian dari proses menjadi pemimpin yang lebih matang.

Kesalahan yang Sering Membuat Pengembangan Leadership Tidak Berhasil

Program leadership sering gagal bukan karena pesertanya tidak mampu berkembang, tetapi karena proses pengembangannya berhenti terlalu cepat.

Kesalahan yang umum terjadi antara lain:

  • Training hanya satu kali, tanpa tindak lanjut.
  • Tidak ada kesempatan praktik setelah menerima materi.
  • Leader tidak mendapatkan feedback mengenai perubahan perilakunya.
  • Perusahaan menyamakan gaya leadership untuk semua situasi.
  • Keberhasilan hanya diukur dari nilai training, bukan perubahan di tempat kerja.
  • Orang dipromosikan menjadi manager tanpa persiapan leadership.

Kondisi terakhir layak mendapat perhatian khusus. Gallup melaporkan bahwa kurang dari separuh manager di dunia telah menerima management training. Padahal, manager yang telah mendapatkan pelatihan cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk berada dalam kategori actively disengaged. 

Dengan kata lain, organisasi tidak seharusnya menunggu seseorang gagal memimpin baru memberikan pengembangan.

Untuk HR dan Business Owner: Jangan Bangun Leader Hanya lewat Training

Leadership development yang kuat sebaiknya dipandang sebagai sebuah sistem.

Strukturnya dapat dimulai dengan:

Assessment → Development Plan → Training → Practice → Coaching → Feedback → Measurement

Assessment membantu menemukan gap.

Training memberikan framework.

Praktik menguji kemampuan di dunia nyata.

Coaching membantu seseorang memahami pengalaman tersebut.

Feedback menunjukkan blind spot.

Sementara itu, measurement memastikan perubahan tersebut benar-benar memberikan dampak.

Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan prinsip 70-20-10 dari Center for Creative Leadership: formal learning mempunyai peran, tetapi pengalaman kerja dan developmental relationships tetap menjadi bagian penting dalam proses pengembangan seorang leader.

Bagaimana Mengetahui Kemampuan Leadership Mulai Berkembang?

Jangan hanya bertanya, “Apakah saya sudah menjadi leader yang baik?”

Pertanyaan tersebut terlalu luas.

Sebaliknya, lihat perubahan kecil yang dapat diamati.

Tim mulai datang bukan hanya membawa masalah, tetapi juga alternatif solusi.

Delegasi tidak lagi selalu berakhir dengan pekerjaan yang harus diperbaiki ulang.

Feedback mulai terjadi dua arah.

Konflik tidak lagi dibiarkan menumpuk.

Anggota tim mulai berani berbeda pendapat.

Keputusan lebih cepat karena batas kewenangan semakin jelas.

Dan yang tidak kalah penting, pemimpin tidak lagi merasa harus mengontrol setiap detail untuk memastikan pekerjaan berjalan.

Itulah salah satu tanda leadership mulai berkembang: leader tetap memiliki arah dan kontrol yang dibutuhkan, tetapi tim semakin mampu bergerak tanpa ketergantungan berlebihan kepadanya.

Penutup

Kemampuan kepemimpinan bukan karakter bawaan yang hanya dimiliki oleh beberapa orang tertentu. Ia merupakan kumpulan kemampuan yang dapat terus dikembangkan melalui pengalaman, refleksi, feedback, training, coaching, serta keberanian untuk mengubah perilaku.

Karena itu, cara melatih kemampuan kepemimpinan sebaiknya tidak berhenti pada mempelajari teori leadership. Tantangan sesungguhnya adalah membawa teori tersebut ke percakapan sehari-hari: ketika memberikan tugas, menangani konflik, melakukan delegasi, menerima kritik, memberikan feedback, atau mengambil keputusan ketika informasi belum sempurna.

Pada akhirnya, tujuan leadership bukan membuat seorang pemimpin terlihat semakin hebat. Leadership yang sehat justru terlihat ketika orang-orang di sekitarnya ikut bertumbuh, semakin mampu mengambil tanggung jawab, dan dapat menghasilkan kinerja yang lebih baik bersama-sama.

Bagi organisasi, pengembangan tersebut akan lebih kuat ketika training dikombinasikan dengan coaching, assessment, praktik di tempat kerja, dan evaluasi berkelanjutan.